Out of NotesMarch 2, 2006 4:55 am
    Cipanon
    Geus teu ngari
    Bahe saban usik
    merebey mapay - mapay walungan
    ngancik di sagara rungsingt

    Kingkin
    tan kendat jadi batur ulin
    napak di lemah
    tan kendat ngocoran pikir

    Clak…..ngeclak
    cikaracak……..
    rup……rungrum…………
    sukma alum
    anjangkeun
    ka dayeuh
    sawarga rasa

    ti: anna

Out of NotesDecember 30, 2005 9:43 am

How I found my Religion

There was time when I was so lost. U name it dude, whatever shit out there, I took. I did. Si gue bener-bener -at that time- had no idea about God, sin, heaven, hell whatsoever. Lucky for me, I got a cousin who keeps telling me too see things differently. Do things differently. Spend life wisely. Pasteh, awalnya mah si gue lempeng! Masup telinga kiri, keluar telinga kanan duong! Until one day my cousin came again with different strategy. Being an IT-addict, si gue bener2 ngejunjung tinggi yang namanya logika (logics). Sebab, semua hasil kerja gue diawali dengan merancang the logics. Mungkin itu yg bikin gue gak terlalu care ama the concept of religion, soalnya dari jaman gue kelas nol besar ampe tamat sma, pelajaran agama yg gue dapet selalu di awang-awang, nggak membumi gitu lho (termasuk privat-privat yang guru ngajinya dateng ke rumah). Sama, semua bullshit, gak pernah bisa jawab pertanyaan-pertanyaan gue pake cara yang gue paham. Mungkin ini salah satu kesalahan sistem pendidikan kita ya, makanya makin banyak manusia-manusia kagak melek agama di negara kita. So, I decided, it’s all crap! Buat gue, when something can not be explained, then it is not true! No matter what! So, thank God, Allah ngirim salah satu penolong-Nya dalam wujud my cousin (kang Endih, makasih ya!).

Many thanks to kang Endih. Lebih lengkap klik saja You opened my heart.

Out of Notes 5:59 am

Sumpah Palapa yang Tiada Terlaksana
Lamun huwus kalah Nusantara, ingsun amukti palapa, lamun kalah Ring Gurun, Ring Seram, Tanjungpura, Ring Haru, Ring Pahang, Dompo, Ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa!

Judul : Dyah Pitaloka
Pengarang : Hermawan Aksan
Penerbit : C Publishing
Halaman : viii + 328

Hari itu, tahun 1253 saka, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Arya Tadah. Ia bertekad menaklukkan seluruh kerajaan se-nusantara —bahkan sampai negeri seberang— di bawah kendali Majapahit dengan Sumpah Palapa-nya yang sangat terkenal. Sebelum mewujudkan cita-citanya, Gajah Mada bersumpah tidak akan memakan buah palapa (sebagai simbol kenikmatan dunia). Betapa baktinya ia pada negara!

Mungkin benar, tanpa jasa Mahapatih Gajah Mada rasanya sulit Majapahit menjadi kerajaan besar seperti saat itu. Majapahit yang dipimpin Tribhuwanatunggadewi —seorang wanita— bisa menguasai lebih dari tujuh bagian kepulauan penting yang terdiri dari beberapa kerajaan. Bahkan, banyak kerajaan-kerajaan kecil yang rela bergabung di bawah kendali Majapahit. Ketika banyak pemberontakan di negeri kecil pun, Gajah Mada-lah yang banyak menyelesaikannya. Maka tak heran karena jasanya, pantaslah jika ia mendapat posisi terhormat dalam pemerintahan. (more…)